Bobroknya Pertamina di Mata Ahok

Akhir-akhir ini sedang ada perubahan besar di tubuh Pertamina. Kita simak pandangan bang Denny Siregar tentang bobroknya Pertamina di mata Ahok.

Bang Denny Siregar sudah lama kehilangan “spirit” Ahok setelah tidak lagi menjabat sebagai Gubernur DKI. Dulu begitu banyak bahan tulisan tentang Ahok sebab Ahok melakukan banyak perubahan ekstrim di DKI.

Read More

Mulai dari penanganan banjir, masalah bobroknya mental birokrat di Pemprov DKI sampai ribut dengan anggota DPRD karena kongkalikong masalah APBD DKI. Memang sangat seru saat itu dan Ahok pintar memanfaatkan panggung supaya kasus-kasus yang selama ini terpendam jadi terangkat ke permukaan. Dan akhirnya seluruh Indonesia jadi belajar bagaimana sesungguhnya bobroknya birokrasi kita mulai dari eksekutif samapi legislatif.

Pengawas dan pelaksana kerjanya ternyata selama ini pada main mata, curi-curi uang negara.

Sesudah Ahok masuk penjara sampai akhirnya di diberi kuasa menjadi Komisaris Utama Pertamina, sudah tidak lagi mendengar teriakannya. Kalaupun muncul di media, Ahok cuma bahas kisar rumah tangganya yang dulu. Tidak penting, recehan dan tidak ada pelajaran yang didapat didalamnya.

Namun tiba-tiba ahok muncul lagi, tidak berubah, dia berteriak keras seperti biasanya saat menjabat di DKI dulu. Inilah Ahok yang sebenarnya, kalau ngomong gak ada remnya, emosional dan selalu mengundang perdebatan keras.

Ahok kali ini bersuara keras tentang “bobrok”-nya situasi di Pertamina. Mulai dari kesukaan Pertamina ngutang, birokrasi di dalamnya yang awut-awutan sampai ketidakmampuan mereka menjadi perusahaan besar selevel Petronas Malaysia.

Tapi benarkan Pertamina bobrok seperti kata Ahok?

Kalau definisi bobrol berarti ancur-ancuran, sebetulnya tidak juga. Pertamina tahun 2018 lalu bahkan memberikan pemasukan sebesar Rp. 120 triliun ke APBN, terbesar sesudah 62 tahun lamanya dan itu seharusnya menjadi prestasi.

Pertamina bahkan ada di posisi ke 175 dari 500 perusahaan terkaya di dunia. Lihat beritanya: TOP 175, Pertamina Satu-Satunya Perusahaan Indonesia Dalam Daftar Fortune Global 500

Ini juga sebuah prestasi yang tidak sembarangan yang telah dicapai dengan kerja keras luar biasa. Tetapi ukuran Ahok dengan ukuran Direksi Pertamina itu beda.

Bagi Ahok, selama kita belum mampu mengalahkan Petronas, perusahaan Migas Malaysia, kita belum ada apa-apanya. Seharusnya Pertamina ada di atas Petronas karena kalau dibandingkan dari banyak sisi, sebenarnya Malaysia gak ada apa-apanya dibandingkan Indonesia.

Dari jumlah besarnya negara saja, Indonesia lebih besar 5 kali lipat dari Malaysia. Belum dari jumlah penduduknya. Penduduk Malaysia hanya kurang dari 10% penduduk Indonesia yang termasuk negara ke 4 dengan penduduk terbanyak di dunia.

Negara Malaysia penduduknya hanya sebanyak penduduk Jawa Tengah. Bahkan kalah. Dengan potensi sebesar itu, kog bisa-bisanya Petronas lebih kaya dari Pertamina? Ini tidak masuk akal! Seharusnya Pertamina bisa jauh lebih besar dari Petronas kalau mau mengikuti pola pikir yang strategis dan efisien seperti mereka. Bukan hanya bangga doang karena ada di negara kaya tetapi tidak mampu membangun manajemen yang lebih bagus dari negara tetangga.

Karena itu, supaya Pertamina bisa lebih bagus, Ahok meluncurkan ide Superholding. Superholding adalah payung raksasa dimana para BUMN menyatukan seluruh asetnya dalam sebuah perusahaan bernama Indonesia Incorporation.

Miriplah dengan Temasek Singapura dan Khazanah Malaysia.

Ini mimpi yang lebih besar lagi meski bukan mimpi baru karena dulu Tanri Abeng pernah punya wacana yang sama. Jokowi juga dalam kampanyenya pernah bicara tentang Superholding, menggabungkan Pertamina dan BUMN lainnya dalam satu kekuatan raksasa.

Masalahnya, apakah kita sudah siap untuk jadi Superholding? Jangan-jangan kalai seluruh BUMN digabungkan, kita malah pincang.

Bayangkan saja, kalau Pertamina dan Jiwasraya sama-sama BUMN tapi yang satu untung dan satunya lagi rugi besar ada dalam sebuah wadah? Ya, pincanglah kita.

Karena itulah Jokowi menugaskan Erick Thohir seorang profesional non-partai untuk melihat lagi lebih dalam terhadap kemungkinan Superholding itu dilaksanakan. Dan Erick dengan tegas bilang, “Belum saatnya..”

Dia harus melakukan banyak kerja, memberesi masalah di BUMN lain supaya mereka siap untuk digabungkan.

Ahok, Jokowi dan Erick Thohir tidak ada perbedaan dalam visi dan misi. Yang beda hanya caranya saja. Ahok lebih beringas, Jokowi lebih kalem tetapi mematikan dan Erick Thohir dalam sisi profesionalnya.

Kalau mau pakai ukuran Ahok, semua BUMN kita pasti bobrok dan supaya tidak bobrok, harus ada Ahok-Ahok lainnya didalam seluruh BUMN kita./disarikan dari: Cokro TV

Foto: Tribunnews


Mari kita saling berbagi :)
  • 11
  •  
  • 1
  •  
  •  

Related posts